Langsung ke konten utama

Resume filsafat

Nama : Miftahul Jannah Arsyad
NIM    : 16140402017
Kelas  : Pend. Biologi A

Pendekatan Filsafat dalam pendidikan

Satu kalimat yang membuat presepsi saya selama ini tiba-tiba berubah dan seakan baru menyadari kesalahan akan pemikiran itu. Kalimat itu adalah “Pendidikan di Indonesia bukan pembangunan pendidikan, tetapi renovasi pendidikan”. Hal ini berdasarkan indeks transparansi Indonesia yang berada di urutan beberapa negara dengan pendidikan yang agak di bawah, padahal sebenarnya pendidikan di negara kita itu sudah termasuk luar biasa. Sudah banyak bukti yang pastinya kebanyakan dari kita telah mengetahuinya dengan sangat baik. 
Hal ini tidak lepas dari catatan penting yang harus diingat bahwa manusia dimanapun ia berada pasti banyak tahu, tetapi tidak mengetahui apa yang dia tahu dan mengetahui tetapi tidak mampu menjalankan apa yang dia tahu. Saya juga masih belum sangat faham dengan catatan ini tapi menurut saya makna yang terkandung adalah sebenarnya manusia memiliki banyak pengetahuan tetapi sayangnya terkadang dia tidak menyadari apa yang sebenarnya dia ketahui atau mungkin memang ia tahu namun ternyata tidak mampu menjalankan apa yang dia ketahui itu.
Dengan hal tersebut, manusia harus menyadari dirinya sendiri di tengah-tengah desakan apapun yang menerpa hidupnya. Karena itu, semua pendidikan harus dibangun di atas landasan agama dikarenakan semua ilmu pengetahuan yang ada pasti berlandaskan dan berpondasikan agama yang kuat agar ilmu pengetahuan tersebut tidak mengalami kesalahan dalam pengimplementasiannya.
Karena kita tidak dapat menyatukan antara ilmu pengetahuan yang ada dengan agama tetapi membuat keduanya berjalan beriringan. Pembicaraan kebenaran pada agama adalah mutlak sedangkan pembicaraan kebenaran adalah relative yang merupakan suatu kesepakatan, dimana kebenaran filsafat merupakan hasil olah fikir manusia.
Hal penting juga yang harus digaris bawahi adalah “Jika tetangga memiliki lampu yang terang benderang maka janganlah menyikap jendela agar rumah kita juga diterangi tetapi nyalakan saja lilin kehidupan meski redup sekalipun”. Ini adalah satu kalimat yang paling bermakna , dan mengajak kita untuk menerima diri kita seadanya sesuai dengan kemampuan dan pemikiran kita tanpa berusaha menutupi jati diri kita. Dengan kata lain “Janganlah meng-adakan sesutu jika enaknya ada pada orang lain”.
Filsafat itu cinta pada kebijakan dan kebijaksanaan  yang menggiring pada hal-hal yang bijak dan dilakukan oleh orang-orang yang memahami dirinya, dimana  seseorang yang harus marah bukan karena keinginannya tetapi demi kepentingan orang lain. Karena pendidikan berjalan beriringan dengan proses hidup dan kehidupan.
Konsep karakteristik filsafat dan pendekatannya yaitu: 1) Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, 2) Kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu, dan 3) Filsafat dimulai dengan keduanya. Dikarenakan berfilsafat mendorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui.
Terdapat 3 bidang kajian filsafat sebagai berikut, yaitu:
Sisi ontologi, yaitu ke”apa”an
Sisi epistomologi, yaitu ke“bagaimana”an
Sisi aksiologi, yaitu ke”untuk”apaan
Dengan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah pendidikan itu?
Apa yang hendak dicapai?
Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan ini?
Dimana pendidikan dalam arti sempit, merupakan usaha sadar orang dewasa dalam hal mendidik, melatih, membina agar dapat menjadi manusia yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALAMIAH, SOSIAL DAN INDIVIDU

Nama   : Nurhanisma Baharuddin NIM     : 1614040003 Kelas    : pendidikan biologi A MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK ALAMIAH, SOSIAL DAN INDIVIDU             Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial. Manusia disebut juga insan. Dalam bahasa arab, berasal dari kata nasiyayang berarti lupa dan jika di lihat dari kata dasar dari al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaann yang baru di sekitarnya. Hal yang paling membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal. Seperti ya...

Catatan kuliah 4 (Aliran Esensialisme Dalam Pendidikan)

Isra Shafira Amyani NIM : 1614041005 Pend. Biologi A Aliran Esensialisme Dalam Pendidikan Pengertian Esensialisme               Secara etimologi esensialisme berasal dari bahasa Inggris yakni   essential   (inti atau pokok dari sesuatu), dan   isme   berarti aliran, mazhab atau paham .   Menurut Brameld bahwa esensialisme ialah aliran yang lahir dari perkawinan dua aliran dalam filsafat yakni idealism dan realism.   Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia Kata esensialisme terdiri dari dua kata yaitu   esensi   berarti hakiakat, inti, dasar. Dan ditambahkan menjadi   esensial   yang berarti sangat perlu, sangat berpengaruh. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga diwarnai  oleh pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme ...

Resume: Hakikat manusia sebagai makhluk alamiah dan makhluk social

Nama : Suhardi Aldi Nim     : 1614042011 Hakikat manusia sebagai makhluk alamiah dan makhluk social 1.     Pendidikan kegiatan khas manusia. 2.     Anak didik (manusia) komponen sentral dalam sistem pendidikan. 3.     Konsep pandangan guru tentang hakikat anak, menentukan strategi praktek pendidikannya. 4.     Pandangan yang benar dan jelas tentang hakekat anak akan terhindar dari akses dampak negative      perkembangan iptek yang pesat. Manusia bisa di didik dan manusia Animal (educandum) yang butuh pendidikan (Animal Educable). Berbeda dengan hewan, yang hanya bisa dilatih namun tidak bisa di didik. Oleh karena itu manusia harus memerlukan pendidikan untuk menjadi manusia, inilah esensi untuk memanusiakan manusia. A. Lapisan perilaku makhluk :   An organis (tunduk pada hukum alam) dan organis, dikuasai oleh hukum alam dan hukum sebab   akibat. Tidak ada yang mampu mengalahk...